Harapan Baru untuk Muid, Proses Pembuatan Kaki Palsu Telah Dimulai
zakatkita.org 02 September 2026 13
“Yang paling sakit bukan kehilangan kaki, tapi kehilangan rasa percaya diri.”
Kalimat itu menggambarkan perjuangan yang dirasakan Adik Muid, seorang anak asal Dusun Karanganyar, Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo, Jember.
Sejak lahir, Muid memiliki keterbatasan pada kaki kirinya. Di usia ketika anak-anak seusianya bebas berlari, bermain, dan mengejar mimpi, Muid justru harus belajar menjalani aktivitas sehari-hari dengan segala keterbatasannya.
Setiap hari, Muid berusaha berangkat ke sekolah tanpa menggunakan kaki palsu. Langkah demi langkah harus dilalui dengan tidak mudah. Aktivitas sederhana bagi anak-anak lainnya, bagi Muid membutuhkan tenaga dan perjuangan yang lebih besar.
Namun, perjuangan Muid bukan hanya tentang keterbatasan fisik.
Muid juga pernah merasakan pedihnya menjadi korban bullying karena kondisi kakinya. Ejekan dan tatapan dari lingkungan sekitar perlahan mengikis rasa percaya dirinya. Padahal, keinginannya sederhana: bisa bermain, belajar, dan tumbuh seperti anak-anak lainnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, kedua orang tua Muid terus berusaha mendampingi dan memberikan dukungan.
Sang ibu memilih untuk tidak bekerja agar dapat merawat dan menemani Muid. Sementara itu, sang ayah bekerja sebagai buruh pemotong tebu dengan penghasilan yang harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Selama ini, memiliki kaki palsu menjadi sebuah harapan yang terasa begitu jauh bagi Muid dan keluarganya.
Namun, kini sebuah langkah baik telah dimulai.
MUID SUDAH MENJALANI PENGUKURAN UNTUK PEMBUATAN KAKI PALSU.
Ada kebahagiaan sekaligus harapan besar ketika Muid menjalani proses pengukuran. Untuk pertama kalinya, impian yang selama ini hanya dibayangkan mulai menjadi sesuatu yang nyata.
Meski begitu, perjalanan Muid masih belum selesai.
Masih ada proses pembuatan kaki palsu yang membutuhkan dukungan dan biaya. Karena itu, kami mengajak Sahabat untuk bersama-sama mengantarkan Muid hingga kaki palsu yang diimpikannya benar-benar terwujud.
Bagi Muid, kaki palsu bukan sekadar alat bantu untuk berjalan. Lebih dari itu, kaki palsu adalah kesempatan untuk melangkah ke sekolah dengan lebih nyaman, bermain tanpa merasa berbeda, membangun kembali rasa percaya diri, menjalani aktivitas dengan lebih mandiri, dan mengejar cita-cita tanpa terus dibatasi oleh kondisi fisiknya.
Hari ini Muid sudah menjalani pengukuran. Tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan kaki palsu yang selama ini ia impikan.
Mari jangan biarkan langkah Muid berhenti di tengah jalan.
Sahabat, mari bersama-sama membantu menuntaskan proses pembuatan kaki palsu untuk Muid.
Sedikit dukungan dari kita mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi Muid, dukungan tersebut dapat menjadi awal dari langkah baru menuju masa depan yang lebih mandiri dan percaya diri.
Bagikan ke Teman
Rekomendasi Artikel